Wednesday, March 7, 2007

I Love you because ...



Rozy Setya wrote:


Dear all,
love urself first before u love somebody else...
commitment here is to strengthen the love itself, to know the limit, what do's and don't's, what are acceptables or unacceptables, where's the love can be brought by that two lovers is only depends on how they implement their commitment.
above of all,...
the honesty is d most important role in implementing love within commitment.
when the commitment created, means, those two person is ready for what they have been choosed, let say " I've choosed you, no matter what...You'll be mine and you're safe here in my heart,forever" , "I choose you" is the end of searching of a place that you'r longing for, a place can comfort you, a place that you'll feel that world is being so nice to you, and you feel......you have had enough, you're not hunger anymore.
he/she becomes very important person in your life, whatever he/she will be, you can't angry or disappoint anymore,such as;if she/he changing of style, being bad person, or doing something in which hurting you very bad, it's all the risk that you have taken when you choosed her/him. commitment is not only having commitment with your lover but also within yourself!.
do you think to be cared by someone is nice?yes....
but do you think to care someone is also nice?yes.... !!!

do you think to be cared by someone you dont love is nice???NO!
or do you think you can taking care someone you don't love?NO!

but these two lines above could be answered "YES" if there's commitment in advance!
means.....Commitmen t can help lovers to feel good....nice!
commitment can help you to trust, can help you to have positive thinking to your partner, and can help you to feel.....enough. ....I'm enough....I' m not sad, I'm not much happy, but I'm enough...since you're here with me, I feel the world is in my arms...no appetite, no hunger anymore.

temen teman semua.....
ada satu bait lagu ratu yang dinyanyikan pinkan, kira2 begini bunyinya:
"salahkah bila diriku, terlalu mencintaimu, jangan tanyakan mengapa, karna ku tau...."
I'm agree with that lyric, kita ga pernah tau secara pasti kenapa kita mencintai seseorang,
ketika dulu orang yang sangat saya cintai menanyakan hal yg sama; saya kebingungan, dia menyakan kenapa saya mencintai dia, secara pisik biasa, materi biasa,bahkan menurut dia saya terlalu "lebih" untuk seorang dia........, saya akui memang...saya memang terlalu "lebih" untuk dia, saya bisa mendapatkan orang yang mungkin 3 kali lipat dari dia,tapi kemudian.... .sesaat setelah dia menanyakan hal itu....saya hanya diam.....dia menunggu...saya menghela nafas....lalu saya cuma bisa bilang ..."saya ga tau....yang saya tau saya mencintai kamu....kenapa saya mencintai kamu , karna saya cinta, kalau saya cinta....ya. ..cinta aja...."...dia memeluk saya.....

cinta ya cinta aja...ga ada istilah cinta karna dia ganteng, kaya, pintar , body ok dll....juga ga ada yang namanya cinta karena cuma kamu yang mau dan bisa mengerti aku , karna kamu selalu ada saat aku butuhkan , karna kamu paling bisa menenangkan aku....ga ada!itu semua bohong dan menyia2kan waktu.
cinta karena "cinta aja" (istilah gw) adalah cinta yang siap hidup dengan pilihan hati, apapun yang terjadi di depan nanti tak akan mengubah apapun.
kapan kita tahu kita cinta seseorang ....kita ga pernah tau...karna yang nantinya memberi tahu adalah hati kita sendiri..... sabar yee....
kalau sakit hati bagaimana?hal paling menyakitkan di dunia ini adalah di khianati orang yang paling di cintai....tapi akan sangat jauh bisa membantu ketika ada komitmen dahulunya dan ternyata pada akhirnya kita sadar..."bukanlah saya yang melanggar komitmen, kenapa saya harus bersedih,... ..seharusnya dia disana sangat tersiksa menyadari betapa dia tidak berguna sama sekali!"

komitment di awal percintaan juga bisa membuat dua orang tersebut maklum dan mau menerima kekurangan masing, atau ada hal2 yang tidak boleh di intervensi oleh pasangan lain, hal2 apa yang tak perlu kuatir, apa yang perlu di beritahu dan apa yang tak perlu diberitahu ...sepanjang semua hal itu tidak mengancam kelangsungan hubungan itu sendiri.misal, pacar saya punya jadwal nongkrong di bilyard dengan temen2 alumni kuliahnya setiap sabtu sore, dan harus visit ortu tiap hari minggu diminggu kedua setiap bulannya, saya enggak boleh manja harus ditemenin nonton seperti orang2 lain jalan ma pacarnya tiap sabtu sore! karna itu akan membuat pacar saya merasa serba salah, dan saya sendiri bisa2 juga sangat merasa bersalah ketika berhasil membujuk dia nemenin saya sekalipun saya tau pikiran dia sedang ada dengan meja bilyard dan temen2nya,hal2 seperti ini yang membuat hubungan jadi ga nyaman,tapi itu semua tidak akan terjadi bila ada komitment sebelumnya which means sudah pernah
dibicarakan dan sudah dimaklumi.


capek ach...
ntar kapan2 sambung lagi
have nice day
and stay cool!!
cheers!

Suka Seragam?



andra basangih wrote:


Yeaaaah!! Akhirnya aku kembali setelah hujan badai menerjang Jakarta, dan cuaca yang sangat tidak bersahabat membuat aku terkapar masuk angin (sungguh tidak elit sodara-sodara) tapi berkat jasa seorang ROCKER (maksud gue temen yang biasa ngerokin he..he..)akhirnya aku terbebas dari perut kembung dan kepala pusing2 (sebenernya sih karena gak ada duit.

............ ..Flash BAck........ .

26 Januari, Isman ngajak beli tiket Java Jazz...hmmm. ..tanggal tua krodit banget,,,sebenernya pengin sih nonton Jamie Cullum...but. .kayaknya gue musti jual diri dulu buat beli tiket (kakakakakak. ..)
Abis nganterin beli tiket..hujan datang tanpa pamit...terpaksa dan amu gak mau aku harus merelakan kepalaku basah dan...yakh.. .....pusing. ...
27.Januari.. ..Ini yang gue tunggu nonton pameran fotonya Jeri........
Bagus! Gue suka konsepnya dia, tapi gue lebih salut ke cara pendekatan dia kemodelnya. Gila artis papan atas mau aja di "bolak-balik' ma dia. Gratis lagi..yeaaahhh. ..gue kapan.....
Sehabis nonton pameran iseng-iseng kita nongrong di senayan city untung aja gue dah baca jampi2 jadi gue gak kesambet main di tempat yang baru gue jabanin....nongkron g di mall...kayaknya ABG banget!

............ ......... ......... ....jeda. ......... ........

Tapi seru juga melihat 'hal-hal' yang seger hilir mudik kekekekek... dan ini hasil pantauan kita
Rambut panjang berponi miring 50.........Rok mini 47......tas pinggang 61......and bla..bla...Iseng- iseng kita bikin riset asal-asalan tentang gaya berpakaian anak jakarta..dan ternyata...remaja indonesia dan (mungkin orang indonesia ) mempunyai kecenderungan untuk bergaya nyaris seragam.dan menurut kami sih udah mencapai level yang alarming! Kami lantas tergugah untuk membuat riset yang sok tau itu

saat itu kami tidak menyadari bahwa diantara kami berlima ternyata memakai pakaian yang nyaris seragam. Kaos itm, jins belel dan sepatu kets...hik.. hik..menyedihkan memang.
Brondong di seberang lautan terlihat duda di depan mata tidak nampak! (garing ya?!)
Yang gue heranin...konon industri fashion sedang berkembang hebat tapi kenapa masyarakat enggan berpisah dengan keseragaman? Padahal tak ada aturan resmi yang mengharuskan orang dengan profesi, usia, gender, ataupun kelas sosial tertentu harus berpakain sesuai peran yang mereka mainkan.

Ingin tampil berwibawa pakailah jas armani, ingin terlihat nyeni..pakailah celana sobek2..ingin terlihat sholeh, pakailah jilbab..hmmm. ...

Hal ini kemudian kami perdebatkan ..Temanku menilai bahwa ini tdk ada hubungannya dg image tapi dengan etika busana. Menurutnya kekantor pake baju renang kan gak etis..baju trenang buat renang...yang etis kan ke kantor pake jas dan dasi. Kata saya kalau bicara fungsi, apa fungsinya dasi dalam kinerja seorang karyawan? Malah lebih nyaman keraj paki kaos...bebas.

Yang pasti manusia sudah kehilangan keunikan dan identitasnya karena penyeragaman lewat propaganda produk2. Hasilnya banyak orang tak merasa keren ketika ia tak menggunakan produk2 yg di gunakan orang lain. menurut sebuah buku..setiap orang adalah pencipta situasi. Hidup adalah festival panjang. dan keragaman ekspresi setiap individu adl sesuatu yng berharga utk dirayakan. Sudah saatnya kita rebut kembali arah hidup kita, setelah selama ini diseret arus konsumerisme global!

nah temen2 sendiri gimana? Masih suka pakai seragam?

Tuesday, March 6, 2007

Supaya hidup cerah dan ceria



Adi Ki wrote:


Eugh... itu yang bisa gua ungkapin saat si bos dateng untuk mereview beberapa kerjaan. Bukan masalah kerjaannya yang bikin gua menggerutu. Mengingat fokus gua akan tersita banyak untuk perkejaan itu yang bikin gemes. Gak tau kenapa pas bangun pagi pas mau berangkat kerja tiba-tiba ada yang "hilang" dari hidup gua.

Sebanyak, sepadat dan separah apapun beban pekerjaan, gua masih merasa bisa untuk menyelesaikannya. Tapi kalo udah ada perasaan "hilang" yang teramat sangat, kayaknya cukup mengganggu juga.

Berangkat subuh, pulang hampir malam. Bisa dibilang gua gak pernah mampir kemanapun untuk yang namanya hang out. Sampe di rumah, beberapa baris daftar pekerjaan rumah sudah menunggu. Selanjutnya tidur. Wiken bisa dibilang mengurung diri di rumah atau pergi keluar kota untuk urusan yang serius. Kalau sudah mengurung diri di rumah pekerjaan gua percis kayak kebo, tidur makan boker mandi nonton tipi dan tidur lagi.

Alhasil tagihan telepon gua sangat minimal, jangankan nelepon, ngangkat telepon aja kadang-kadang males. Maen keluar, kalo bukan temen yang ngajak atau dipaksa kayaknya susah banget. Sering kali wiken gua gak menjejakan kaki keluar pintu rumah. Kata temen gua, gua ini terlalu tertutup dan tidak membuka diri. Apanya yang tidak membuka diri, kalo dirumah aja gua cuma pake "cd".. ehehehe... kurang apalagi coba.

Kira-kira temen-temen ada yang punya pengalaman serupa gak? Gimana caranya supaya lebih "cerah dan ceria". Masak hidup gua hanya didedikasikan buat kerjaan melulu.. gua pengen mendedikasikan diri gua untuk seseorang. But how?

gor BP26 wrote:

Gue mengandalkan teman gue kalau gue begitu Sepulang kerja, gue paling kagak ketemu sama temen utk berbagi informasi terbaru ttg apa pun dan bisa curhat ttg apa pun

kita berkumpul hampir lebih dari 8 tahun sejak kuliah hingga skrg diperkumpulan itu, kami tidak membiasakan diri untuk menghakimi rekan yang sedang curhat tapi menghujat, menghina, dan bergembira di atas penderitaan teman tsb akhir nya, yg curhat bisa mentertawakan masalah nya sendiri. jika sudah ke arah sana, jalan keluar mudah di
pikirkan dan di laksanakan

itu lah guna nya teman
tempat kumpul tdk perlu harus cafe gemerlap yg sekali duduk perorang harus menghabiskan minimal 150rb, tapi bisa juga warung kacang ijo dipinggir jalan sudirman atau makan mie pangsit di daerah benhill atau food court atau mengadakan mini buffet di dalam bus atau taksi

lokasi tidak penting asal nyaman, tdk mengganggu org & tdk ada yg ikut usil dari sana,paling tdk beban kerja agak berkurang, dan otak serta mental bisa dipakai utk menangani masalah lain nya

tidak ada waktu ?
elo harus pulang kan
dan kagak mungkin elo kagak ada kenalan yg se arah pulang

aldy zest wrote:

well....kondisi pertemanan itu naik turun just like the way life goes...people changes along d way...
yg bisa dilakuin skrg adalah cari temen baru yg banyak.biarkan waktu akan menyeleksi mana true frenz mana yg numpang lewat doang. carilah org yg mempunyai life direction yg sama.Jgn lupa di maintain tuh temen2 lama, keep emailing, calling, YMing, ngumpul bareng sebentar aja.

jadi inget omongan gw: anjing tuh ngumpul ma anjing. kucing ngumpulnya ma kucing. u dont mix dogs with cats......ntar jadinya catdog.... catdog......


Sky Above wrote:

Bener banget ttg pertemanan itu. There is the beginning there is the end. People comes and goes in our lives....... ......

Kalo pertemenan itu di ibaratin sebuah perjalanan (journey). Ada orang2 yang kita ktemu hanya untuk "just say hi", ada yang kita bertemu hanya untuk bertanya arah jalan dan ada pula kita bertemu dengan nya untuk suatu "one night stand".

Lalu ada orang2 yang menjadi teman kita karena arah perjalanan kita sama, karena tujuan kita sama. Tapi itu juga mungkin hanya untuk sampai belokan pertama, atau perempatan jalan besar di depan. Lalu setelah mencapai sebuah desa kita berpisah, atau setelah sampai di sebuah kota besar kita harus melakukan tujuan masing2 dan berpisah.

Lalu orang dan teman baru datang untuk sebuah perjalanan yang baru, karena life goes on, there is time to say hi and there is time to say goodbye..... ......

Saat untuk berpisah memang selalu tidak menyenangkan, terutama untuk orang2 yang telah mengisi kehidupan kita dengan kebaikannya dalam melakukan perjalanan yang disebut kehidupan. But then again that's life, people (we) changes along d way with their own purpose of life........ ...

Dedicated to all my good friends from the past and future...... .....it's been a wonderful journey with all you guys

Turn your love luck around



By Julie Taylor


When you see a couple canoodling at a Chinese restaurant (on the same side of the booth, natch), do you ever think to yourself how freaking lucky they are? Even without seeing what message lies inside their fortune cookies, it’s clear that Lady Luck has smiled upon them and brought them together-which can be a little painful if you’ve recently been overlooked in the romance department. Well, we’ve got some good news. No matter how your love life has (or hasn’t) played out in the past, you can easily turn your love luck around when you employ our proven principles. We’ve consulted top experts in the field to find out how you can inject a little more fortune into your love life and once and for all win the Lotto of love. Jackpot!


Open your eyes to what’s around you

"Unlucky people are generally more tense than lucky people, and this anxiety disrupts their ability to notice the unexpected," says Richard Wiseman, Ph.D., author of The Luck Factor: Changing Your Luck, Changing Your Life and head of a psychology research department at the University of Hertfordshire in England. "As a result, they miss opportunities because they’re too focused on looking for something else." For instance, they might go to parties so intent on finding their "perfect partner" that they then miss their chance to meet anyone who doesn’t meet that ideal. Lucky people are more relaxed and open, and they therefore see what is there waiting for them rather than focusing solely on what they’re looking for in a mate. So the next time you go to a nightclub or party, throw your pursuit of Mr. or Ms. Perfect out the window and instead focus on talking to people who make you laugh and relax. That’s someone worth getting to know.


Tune into "gut feelings"
In his research, Dr. Wiseman has found that lucky people listen to their instincts because those instincts are normally right. So for the next week, try not only listening to your gut feelings but acting upon them: Email someone whose online profile seems to silently call out to you, or speak to that stranger in the produce section who’s giving you a strange sense of déjà vu. Elizabeth Bradford, 32, of Plano, TX, used this very strategy to find her now-boyfriend. "I was in line at a farmer’s market tamale stand, and a voice inside me told me to talk to the guy in front of me. I almost never make the first move, so I was nervous-but my gut told me if I didn’t say hi, I might regret it for the rest of my life. I went ahead and spoke up, and we ended up having tamales together on a park bench. We’ve been together for six months now, and the most important lesson this relationship has taught me is to always follow your inner compass. It will never steer you wrong!"


Shake up your daily routine
Transforming your luck can be as simple as changing where you buy your morning coffee, says Theresa Hoiles, co-author of Love, Luck, And Lore: A Guide To Superstitions, Prayers, Spells, And Taking Chances In Pursuit Of Love. "When you change your routine, you’ll be more likely to take note of what’s going on around you rather than walking around on automatic pilot, oblivious to potential partners in the vicinity," she explains. So take a different route to work. Hit the Laundromat on a Saturday afternoon instead of a Wednesday night. Mix things up to discover what (or whom) you’ll find off your beaten path.


Expect good fortune
"Luck is very often a self-fulfilling prophecy," Dr. Wiseman attests. "And visualization helps lucky people persist in the face of failure and positively shapes their interactions with other people." So before your next date, take a few moments to imagine yourself having the best date of your life. Close your eyes. Envision yourself smiling, connecting, and clicking with the other person. Then make it happen!


Keep a luck diary
In Dr. Wiseman’s Luck Lab, where he’s performed much of his groundbreaking research on luck, he asks people to keep a luck diary. At the end of each day, they spend a couple of moments writing down the positive and lucky things that happened to them in the past 24 hours. "After doing that for a month," he says, "it’s difficult for the participants not to be thinking about all the good things that are happening!" To give his technique a twist, try keeping a Lucky in Love Diary for 30 days. Write down all the lucky romantic things that happened to you throughout each day-noting the cute cashier who smiled at you in Starbucks or the way your date stroked your hand during dinner. By month’s end, you’ll feel like a luck (and love) magnet!


Transform bad luck into good luck
It turns out that lucky people have their share of rotten luck, too. But Dr. Wiseman says they are pros at looking at the bright side. "They automatically imagine how things could have been worse, and don’t dwell on their bad luck," Dr. Wiseman explains. "They have a strong conviction that everything will work out for the best." And it usually does. So the next time you have a bad date, remind yourself of the bright side: Dating is a numbers game, which means that every dud you meet only brings you closer to The One. And with the above advice, that may happen sooner than you think!

Julie Taylor is the co-author of How To Be A Dominant Diva. She also writes for Redbook and other publications.

Sunday, February 25, 2007

PENYIKSAAN Krn Saya GAY...!!!



anas_tino wrote:


Hi semua,....
Berita ini aku ambil dari forum.
ini pengalaman buat kita semua. Dan, PERJUANGAN yang dilakukan oleh KORBAN-dlm hal ini TOYO-sangatlah luar biasa. SEMOGA INI MENJADI TITIK AWAL PERJUANGAN KITA SEMUA...!!!

BERIKUT KISAHNYA :
teman - teman saya baru saja mengalami hal yang berat sekali dalam hidup saya. Pada saat saya di banda aceh sekitar akhir bulan januari 07. saya dengan pasangan cowok saya mendapat perlakuan yang sangat mengerikan sekali dalam hidup saya.

Kamar pribadi saya didobrak oleh teman saya sendiri dan saya mendapat pemukulan dari massa. sampai sekitar 2 jam kemudian saya di bawah kekantor polsek di banda aceh. kemudian saya malah mendapat penyiksaan yang lebih berat lagi dengan cara pemukulan, penghinaan hanya karena saya gay serta pelecehan seksual.

Salah satu pelecehan yang saya terima adalah saya ditelanjngi dan kemudian pasangan saya dipaksa untuk mengoral penis saya. dan itu disaksikan oleh banyak polisi yang bertugas pada malam itu (sekitar pukul 1.00 dini hari).

Selain itu juga kepala saya dikencingi dan dimandikan pada malam itu juga. pada saat saya bilang bahwa saya gay, saya malah mendapat penyiksaan lebih berat. bagi saya hak pribadi saya dan kemanusiaan saya sudah diinjak - injak oleh kepolisian banda aceh.

Terlepas dari kasus saya sebagai gay, tetapi saya tetap tidak terima penyiksaan yang saya terima tersebut. karena negara kita adalah negara hukum yang punya aturan main dan tidak main hakim sendiri. apalagi itu dilakukan oleh aparat negara (dalam hal ini pihak kepolisian).

Sehingga sekarang saya untuk sementara pindah ke jakarta dan akan melakukan tuntutan kepada pihak kepolisian. Saya akan tuntut isu penyiksaannya bukan pada isu seksualitasnya.
sekarang saya dibantu oleh teman - teman YLBHI Jakarta, Arus Pelangi (LSM yang fokus untuk perjuangan GAY, lesbian, bisek dan waria) dan kapal perempuan jakarta. Selain itu juga teman - teman dari komnas ham dan lsm lainnya dijakarta, aceh, padang dan medan.

Terlepas dari itu semua, ternyata saya juga baru tahu bahwa sebenarnya saya melakukan ML itu tidak ada hukum yang saya langgar. karena hubungan gay di KUHP dan Qanun di aceh tidak diatur. Jadi secara hukum sebenarnya saya tidak bisa dijerat dengan pasal apapun.

Tapi sekarang teman - teman ada perda - perda didaerah spti palembang sudah mengkriminalkan gay , waria dan lesbian. Ini yang mesti kita perjuangkan. karena kita menjadi gay saja sudah dianggap pelacur dan sudah layak untuk di hukum dalam isi perda tersebut. walaupun dia (gay)itu seorang ulama misalnya. Ini kan mengerikan sekali, menjadi gay langsung dimasukan dalam kategori pelacur dan wajib ditangkap.

Kembali lagi ke persoalan saya tadi, saya cuma ingin mulai kita memikirkan strategy dan mulai mendiskusikan hak - hak kita sebagai gay. karena saya yakin bahwa kejadian yang saya terima bukan cuma saya saja tetapi teman - teman yang lain di forum ini pasti ada yang pernah mengalami itu. Atau mungkin teman - teman yang lainnya...

Jadi saya akan advokasi dan tuntut kepolisian tersebut. saya mohon dukungan teman - teman semua ya.. karena selain itu juga saya berjuangan, bahwa kita (gay) itu ada dan tidak bisa diingkari kenyataan tersebut. Persoalan kita setuju atau tidak saya pikir itu perlu didiskusikan
dan saling mendengar argumentasi masing - masing tentang dunia gay. Tapi maksud saya mari kita bergandengan tangan untuk menguatkan teman - teman gay. Mungkin saja banyak teman mengalami hal yang sama seperti saya tetapi teman - teman menutup diri dan menajdi persoalan pribadi saja. Mungkin saya lebih kuat dan berani untuk menuntut tapi gimana dengan
teman - teman kita yang lainnya??? Apah kita cuma diam dan cukup kasihan saja??? tanpa melakukan dan memberikan dukungan apapun??

Saya yakin akan berat dan takut kita semua kalau mau menuntut polisi karena gay misalnya. Kita semua akan takut malu dan klga nanti tahu semua dan dan banyak alasan sosial yang lainnya. tapi lagi kalau dihadapkan pada agama, ya kita pasti akan mundur secara cepat dan
mengatakan bahwa ini berdosa dan memang pantas mendapatkan penyiksaan dari massa dan pihak kepolisian. Ini kan Ironis sekali teman - teman....... ...

Tapi minimal kita sesama gay atau biseksual mulai empati dengan teman - teman kita yang mangalami kasus spti saya ini misalnya. saya akan maju kan kasus saya ini sebagai strategy advokasi bagi kita sebagai gay. bahwa kita manusia biasa juga yang sama dengan orang lain. yang membedakan hanya orientasi sex saja (hetero dan homo). jadi sekalian bisa memberikan gambaran bahwa kita ada dan sampai kapan pun kita ada. Apakah menjadi gay sebuah hal yang salah??? ini yang mesti kita diskusikan.. Dan saya sudah siap untuk maju dengan resiko yang berat yang akan saya hadapi (termasuk sanksi sosial). saya harus berani dan tidak boleh menyerah dan diam saja terhadap perlakuan diskriminasi yang selama kita (gay) terima.

Mungkin itu saja teman - teman, kalau mau diskusi lebih dalam bisa lewat email jam_gadang2003@ yahoo.com

cat ; saya butuh dukungan teman - teman tapi bukan menyalahkan ya...

salam

Toyo

Emanil_anil wrote:

Pak Toyo.

Kalo polisi itu menyuruh kita beroral kelamin dia menyaksikan adegan itu berarti dia dg sengaja menonton film gratis (menikmatinya) ? itu berarti dia juga bisa dituduh sbg pihak yg melakukan pelecehan, kalo mreka bukan anti tgd Gay ngapain mreka menonton adegan itu

malah dg sengaja menciptakan adegan seru yg ingin mreka lihat di mana penmandanag itu kan jarang ada? belum lagi tuduhan penyiksaan lainnya yg tak manusiawi.polisi tak berhak menghakimi kesalahan a moral. hukuman harus mlalui pengadilan trlebih dahulu. itupun kalo terbukti bersalah, dikenakan hukuman yg setimpal oleh jaksa di pengadilan sesuai dg UU yg berlaku. kesalahan a moral saratnya harus tertangkap tangan pd saat melalukan ML dan ada saksinya. dikelompokan kpd tindak asusila/perzinahan. Kalo dilakukan thd anak kecil/di ba-
wah umur dikenakan pasal uu ttg perlindungan anak.

Tapi kalo tidak sedang mlakukan ML. tidak tekena sanksi apa2 sebab tidak ada kejadian apa2. cuma sekedar di tuduh Sbg Gay, Yg menuduh malah bersalah, menuduh sembarangan tak ada ada kejadian apa2 berarti ia mempitnah (bisa dikenakan hukuman), apalagi mreka menyuruh anda beroral dg paksa ?

Penyiksan bukan hanya terjadi pada pak Toyo saja kpd yg lain juga bnyak, saya sendiri juga pernah dapet perlakuan itu cuma bukan oleh polisi dan bukan disuruh oral tp. siksaan pisik lainnya dan pemerasan. Ada kejadian serupa skitar belesan tahun yl konon kabarnya ybs. disuruh oral lebih keji lagi karna sebelum oral kelamin diolesin rheumason, bisa dibayangkan gimana rasanya tersiksa spt itu.

Nah pak Toyo lanjutkan berjuang saya dan mungkin teman2 sehati lainnya mendukung minimal secara moril dan kasih masukan. smoga berhasil, slamat berjuang...bung.

Andre winarta wrote:

Ini cukup membanggakan karena ternyata diberapa kota sudah berani melakukan perlawanan akan sesuatu yang sifatnya diskriminatif. Saya salut karena memang yang perlu diperjuangkan bukan permasalahan status kita sebagi "Gay" tetapi perlakuan hukum terhadap kita.

DiSemarang sendiri saat ini rekan-rekan juga sudah mulai mendapatkan perlakuan yang cukup mendiskriminasikan "Status" kita sebagai Gay, dari laporan lapangan menyebutkan rekan-rekan mulai dirazia (Hampir tiap malam) dan "dipalak" hingga 100rb rupiah. Saya sendiri masih terus melakukan pengumpulan data untuk memperkuat laporan.

Lebih Parah lagi, di Jogja. Teman-teman yang hendak melakukan VCT (Voluntary Consultingand Testing) HIV & AIDS sudah mengalami diskriminasi saat pengambilan darah -Hal ini sudah dilaporkan- an diSemarang, rekan-rekan yang hendak VCT juga dimintai dana dengan alasan sebagai 'pendaftaran' padahal sebagaimana kita ketahui bahwa sampai saat ii seharusny VCT bersifat GRATIS dan RAHASIA.

Yang jelas kita juga harus secara bersama-sama memperjuangkan 'Hak Sipil' Gay di Indonesia. Tidak harus diakui secara hukum (dalam hal hubunganya or pernikahanya) , minimal dalam konsep 'Hak Sipil' sebagai perjuangan jangka pendek.

Semoga ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi hukum di Indonesia dan juga rekan-rekan Gay iseluruh Indonesi. Kita harus bisa memulai memberikan pelajaran sosial bagi masyarakat Indonesia

HEDONA Semarang

Saturday, February 17, 2007

Loggerheads



Loggerheads bercerita tentang anak adopsi, ibu kandung dan ibu angkatnya. Ada tiga kisah pada waktu dan tempat berbeda di jalin menjadi satu. Mark (Kip Pardue), seorang pemuda yang terobsesi pada kura-kura di Kure Beach, berkenalan dengan George (Michael Kelly), pemilik sebuah motel yang ramah.

Grace (Bonnie Hunt), seorang agent penyewaan mobil bandara, berhenti dari tempat kerjanya untuk mencari anak yang sejak kecil diserahkan untuk diadopsi keluarga lain.

Elizabeth (Tess Harper), seorang istri dari keluarga yang sangat konservatif melihat ada keanehan pada anak angkat mereka.

Tak mudah mengikuti alur cerita di awal film ini. Ketiga kisah saling terpisah dan muncul saling bergantian. Namun yang cukup menarik untuk di simak adalah "pertemanan" antara Mark dan George. Walau perkenalan antara keduanya awalnya berjalan wajar, namun keduanya seperti saling menunggu salah satu dari mereka akan membuka diri atas rasa yang muncul antara mereka. Mereka seperti saling bergumam "Aku cinta, kamu juga khan?" tanpa suara.

George tak mampu menyembunyikan kekagumannya pada Mark, sewajar apapun sikap George padanya, Mark tetap bisa merasakannya. Merekapun tak mudah membuka diri satu sama lain. Dan jangan berharap film ini seperti film-film lain yang sejenis. Sang sutradara cukup pintar membuat penonton berimajinasi dan berdebar-debar saat George menatap Mark lekat-lekat atau saat Mark melepas kaosnya di depan George. Tapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung terjadi. Duh... teganya... hehehe

Lalu apa hubunganya antara Mark, George, Grace dan Elizabeth seperti di tulis di awal? Mmmmm... lebih asyik kalau nonton langsung yah... Soalnya saya hanya ingin menulis tentang Mark dan George. Hehehe.. Coba simak alur cerita dalam film ini, kita akan menemukan kisah yang tak biasa..

Oh ya, Loggerheads mendapatkan beberapa penghargaan loh. Antara lain sang sutradara (Tim Kirkman) mendapatkan Grand Jury Award dalam L.A. Outfest untuk kategori Outstanding American Narrative Feature. Tim juga menerima penghargaan yang sama dalam Nashville Film Festival. Selain itu dalam Sundance Film Festival, lagi-lagi Tim di nominasikan untuk kategori dramatic, walau tidak menang.

Nonton yuuukk!!!

gugun
gmovies multiply com

Wednesday, February 7, 2007

Pak, Saya Gay


Sumber: http://arifkurniawan.wordpress.com/

Arif Kurniawan wrote:

Tahun baru 2005, saya kecelakaan. Jatuh ketika main game outbond ugal-ugalan dengan rekan kerja. Cukup parah. Kepala membentur beton, dari ketinggian 1-2 meter. Pingsan dan dibawa ambulan.

Di balik semua kisah, pasti ada hikmah. Katanya orang-orang yang percaya. Dan saya bukanlah tipe orang-orang itu… hehehe.

Dalam beberapa hari setelah ‘kejatuhan’, mahasiswa-mahasiswi saya datang berbondong-bondong membesuk ke rumah. Datangnya juga nggak kira-kira, man. Sekali datang bisa 20-30 orang. Banyak banget!

Sialnya lagi, hanya 2-3 orang yang bawa makanan atau buah-buahan. Selebihnya modal senyum dan say apakabar. Lebih sialnya lagi, the rest.., cuma numpang makan makanan besuk buat saya yang dibawa temannya. Walhasil, saya tetap lapar! Hehehe.

Hari ketujuh. Saya pikir sudah cukup kuat. Tangan saya membaik. Kelingking sudah bisa digerakkan. Saya pikir, hari kedelapan bisa minta tolong ke tunangan untuk diantar ke kampus dengan mobilnya. Hari itu, saya kedatangan tamu, salah seorang yang berniat membesuk saya. Ia, seorang pemuda berusia sekitar 22 tahun. Salah seorang mahasiswa yang saya ajar dalam kelas multimedia. Namanya.., ahh sebut saja Steve.

Steve datang sendiri. Tidak bersama teman-temannya. Aneh, biasanya anak ini ‘begaul abis’. Tidak lama setelah ngobrol ngalor-ngidul panjang lebar membicarakan software-software terbaru. Tiba-tiba ia menatap saya dengan mata yang sendu… Lalu berkata “Pak, saya Gay”.

Wah, saya speechless. Diam seribu bahasa. Tak dapat bicara. Di hati, hanya ada kata.

Setelah menarik nafas panjang. Saya lalu berkata,

“Steve, terimakasih. Saya amat tersanjung apabila kamu menyukai saya. Tapi saya sudah punya tunangan yang sebentar lagi akan menjadi istri saya”

Steve kaget, “Tapi pak, saya juga sudah punya pacar”

Gantian saya yang kaget, “Loh, kamu mau selingkuh sama saya?”

Steve kali ini benar-benar merengut, “Bapak kok geer amat sih. Saya nggak suka sama bapak. Saya cuma mau ngasih tahu, kalau saya gay”

Whalah.., kok jadi kacau gini?

Lalu dia menceritakan bahwa akhir-akhir ini, teman-teman di kampus menjauhi. Setelah beredar gosip, ia sering mampir di Gay Bar di Kuta Bali. Dalam kebingungan mengatasi masalah tersebut. Satu-satunya manusia Indonesia yang ia kenal dengan terang-terangan mengaku punya banyak teman gay, mengumumkannya dan tidak peduli dengan pendapat publik adalah… saya.

Dengan amat sangat, Steve memohon untuk membantunya mengatasi masalah ini. Saya mengangguk setuju. Kasihan si Steve. Masih muda sudah dikucilkan.

Hari kedelapan, saya memberi kuliah History of Digital Art. Sebagai bagian dari silabus mata kuliah, saya harus memberi tugas yang berhubungan dengan Digital Art Lover. Wah kebetulan nih, saya dengan santainya memberi tema tugas pada mahasiswa yaitu “digitalisasi cinta sejenis”. Hahaha…

Tugas itu dikumpul minggu berikutnya. Di jam kuliah yang sama. Dengan metode presentasi karya dalam bentuk digital. Dan 65 mahasiswa merespon balik dengan amat baik. Mereka merepresentasikan apa yang ada dalam benak mereka mengenai cinta sejenis. Karya yang dipresentasikan terdiri dari film animasi, poster, website, sampai kartu ucapan yang pinky banget. Umumnya, menampilkan HIV/AIDS. Simpel, artinya bagi kebanyakan mereka, kehidupan cinta sejenis identik dengan HIV. Namun, diantara mereka juga banyak yang menampilkan jargon “jangan pandang sebelah mata”. Artinya juga simpel, Gay/Lesbi juga manusia, hargai sebagaimana menghargai manusia.

Setelah itu ada diskusi, yang membuat saya terkaget-kaget. Bahwa bagi generasi muda Indonesia (ini general loh, mahasiswa saya berasal dari seluruh pulau-pulau besar di Indonesia) lebih permisif terhadap cinta sejenis. Bahkan umunya menganggap lesbianisme adalah hal yang sangat mengasikkan, alasannya “Pak, asik loh nonton pelem bokep yang isinya perempuan ama perempuan lagi maen”.

Whalah!

“Kenapa kamu nggak nonton yang laki-laki main sama laki-laki?”

“Amit-amit pak. Meskipun laki-laki itu masih keluarga sendiri, ngeliat dia telanjang saja saya nggak suka. Apalagi ngeliat orang lain!”

Hahaha… itu mah bukan homofobia. Saya ajah ogah, ngeliat laki-laki telanjang selain diri saya sendiri. Sama ogahnya seperti ngeliat perempuan manula telanjang.

Sejak saat itu, saya lihat Steve lebih sering berkumpul lagi dengan teman-temannya.

Empat bulan setelah saya resign sebagai pengajar, karena harus ke luar negeri. Steve mengirimkan email. Isinya…,

“Pak, saya terpaksa mundur dari sekolah. Alasannya simpel, dewan kampus tidak mau menerima saya apa adanya. Semua teman membela saya. Tapi tetap saja saya dan orangtua, dikirimi surat bahwa saya ‘diminta istirahat hingga waktu yang ditentukan dewan pembina’ oleh kampus. Lah, saya luntang-lantung. Tapi saya sadar, bahwa saya punya ilmu yang bisa saya amalkan untuk bekerja. Saat ini saya di Sydney, bekerja sebagai graphic designer. Diberhentikan dari kampus dan berjuang di luar adalah hal yang terbaik saat ini yang pernah saya dapati dalam hidup saya.
Namun, yang lebih baik dari semua itu adalah, saya bahagia, punya seorang guru, yang berkata, bahwa saya adalah manusia dan menjadi manusia adalah sebuah karunia.
Terimakasih pak.”


Sambil menangis, kesal sekaligus terharu…, saya menangkap makna simbolisnya.

Ternyata, dibalik semua kisah ada hikmah.