Friday, March 30, 2007

Kasus Homoseksualitas



Imam Nurmawan wrote:


Assalamu'alaikum wr. wb.

Ketika menunaikan shalat Jum'at kemarin, Khatib menyoal homoseksualitas yang menyebabkan bencana. Beliau menyinggung tentang kaum Nabi Luth as, lalu merefleksikannya dalam konteks kehidupan masa kini. Menurut beliau, perilaku homoseks menyebabkan bencana yaitu menyebarnya HIV, virus yang sampai kini belum dapat disembuhkan.

Memang, jika membahas soal homoseks, bencana yang menimpa kaum Nabi Luth as selalu disinggung. Begitu pula dengan kebencian terhadap perilaku mereka. Hal ini wajar, apalagi Al-Qur'an secara tegas menyampaikan kisah itu.

Kaum Nabi Luth as tadinya adalah penduduk Babilonia (Nabi Ibrahim as juga pernah tinggal di sana). Karena mereka homoseks, mereka dikucilkan dan akhirnya diusir. Mereka lalu mendiriikan kota Sadum (sering juga disebut Sodom dan Gomorah). Karena keahlian mereka membangun gedung-gedung, kota Sadum menjadi megapolitan baru saat itu. Kaum homoseks berkuasa lalu balas menekan kaum heteroseks dengan menjadikan mereka budak. Kaum heteroseks dipaksa membayar upeti atau kalau tidak mereka harus menjadi homoseks.

Lambat laun, seluruh kota Sadum menjadi kaum homoseks dengan menjadikan kaum wanita sebagai budak-budak (dalam hal ini memang tidak disinggung sama sekali tentang lesbian). Karena tidak lagi mendapat upeti, mereka akhirnya merampok barang-barang pedagang. Kaum homoseks di kota Sadum memang memperlakukan diri sebagai elit dengan perlakuan istimewa. Mereka juga sering berpesta-pora dan melakukan tindak kejahatan lainnya. Kepada merekalah kemudian Allah SWT mengutus Nabi Luth as. Istri Nabi Luth as bukan lesbian seperti yang disampaikan sebagian orang. Tapi ia suka menerima bagian harta rampasan para pedagang sebagai imbalan menyebarkan informasi tentang dakwah Nabi Luth as. Akhirnya, istri Nabi Luth as juga menjadi korban dalam bencana yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth as.

Bencana yang terjadi di masa lalu itu menjadi momok yang menakutkan sehingga sering kali ditanggapi secara keliru. Bahkan HIV yang menurut penelitian mutakhir diketahui berasal dari monyet Afrika dianggap sebagai bencana homoseks. HIV seperti halnya virus flu burung yang berasal dari unggas memang penyakit mematikan. Tapi menyalahkan manusia dalam hai ini jelas keliru, karena virus memang berasal dari hewan atau tumbuh-tumbuhan tertentu.

Bagaimana pun hubungan seksual di luar nikah memang merupakan perzinaan, baik heteroseksual maupun homoseksual. Karena itu dampak yang ditimbulkan harus dicermati sebaik mungkin. Begitu pula jangan sampai terjadi eksploitasi secara vulgar sehigga menimbulkan kebencian, apalagi kebencian yang berlebihan tanpa didasari ilmu dan fakta-fakta yang jelas.

Membicarakan homoseksualitas memang riskan. Kemungkinannya muncul tuduhan yang macam-macam. Padahal hal ini harus disikapi dengan tepat untuk kebaikan bersama dalam kehidupan bermasyarakat dan sosialisasi lainnya.

Jalan terbaik adalah meninggalkan perilaku homoseks.lalu menikah. Tentu saja dengan pertimbangan yang benar-benar baik. Bukan untuk menghindari masalah sehingga muncul masalah baru seperti perselingkuhan atau malah menjadi biseksual. Pilihan ini mungkin saja sangat berat dan sulit meskipun bukan berarti tidak dapat dilakukan. Dalam praktiknya, pasangan bisa saling mengerti. Atau mungkin merahasiakan sambil terus melakukan terapi. Bagaimana baiknya jelas sangat bergantung pada situasi.

Jika tidak sanggup menikah, juga didasari kekhawatiran akan menimbulkan masalah maupun khawatir tidak dapat membahagiakan istri misalnya, mungkin saja menghindari hubungan seksual sama sekali. Tentu saja dengan pertimbangan untuk menghindari hal-hal yang tidak dibenarkan dan diinginkan.

Bagaimana jika akhirnya tetap melakukan hubungan seks? Memang ini sangat dipengaruhi beragam sebab, bermacam-macam pula faktornya. Karena hubungan seksual di luar nikah adalah zina, sedapat mungkin hindarilah. Setidaknya jangan menganggap sepele atau bersikap masa bodoh. Kesadaran hal ini menjadi penting karena dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah Maha Pencipta. Dalam keyakinan sebagai makhluk-Nya, Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. Jika tidak menyadari hal ini, sangat dikhawatirkan justru akan terlibat dan terjebak pada hal-hal lain yang justru malah lebih buruk. Tapi kemungkinan ini jelas sangat bergantung pada kondisi masing-masing individu.

Tulisan ini saya sampaikan mudah-mudahan untuk memberi gambaran yang lebih jelas. Bagaimana baiknya tentu saja terserah pendapat masing-masing. Saya hanya berharap semoa tulisan ini memberi manfaat dan wawasan yang lebih baik.

Salam.

Tuesday, March 27, 2007

Kadang seperti dalam kutukan



Adi ki wrote:
Sedikit mau cerita-cerita,

Kadang, berteman sama orang-2 yang cakep bisa menimbulkan masalah. Khususnya masalah yang ditimbulkan oleh diri sendiri. Ya karena pada dasarnya G tetep aja G, gak bisa dipungkiri even fisik bukan hal yang utama, tapi kadang bisa tergoda juga.

Padahal sudah terbiasa bertemen sehari-hari, contoh kasus di kantor, yang orang-2nya bisa dibilang cakep2. Hubungan sebatas teman kantor sih masih terbilang gak menimbulkan masalah. Gua kadang bersyukur, kehadiran mereka bisa membuat fresh suasana. Tapi kalo udah kelewat deket, karena sesuatu hal yang random, deket secara fisik dan apalagi emosi, tiba-tiba aja timbul "sesuatu" pada diri gua. Nah inilah bagian yang paling gua benci. Dengan berbagai cara gua harus menjauh dan berusaha menghilangkan "sesuatu itu".

Ada satu hal yang pernah membuat gua merasa tertekan. Ketika tugas luar kantor bersama temen, kebeneran dia ngundang temennnya di kota itu. Anyway busway, menurut gua temennya itu lumayan "cakeeeeppp euy". Dan itu temen eaktu kecil-nya temen gua. Karena banyak kesempatan ngobrol sama dia, dan temen gua itu sibuk dengan urusannya, gak tau kenapa gua menangkap adanya "sesuatu". dan itu gak cuma gua aja yang merasakan dan keliatannya dia juga. Gosh... it was the first time I really loosing my self into someone in the "right" way. Keliatannya kayak anak kecil banget sih tapi begitu lah perasaan gua waktu itu. Sampe akhirnya gua tersadar, itu gak boleh terjadi, dia itu temennya temen kantor gua, temen. Dan bla bla bla bla bla... gua bilang sama dia "dalam jangka waktu dekat gua akan menikah dengan seseorang". Mendadak suasana jadi dingin dan tiba-tiba dia "agak" menjauh... (I'm really sorry dude... gua terpaksa). Good bye and hopefully we never meet again.

Sudah selesai dengan masalah itu, eh tiba-tiba ada "pendatang baru" di kantor. Anak abg banget gayanya, tadinya sih cuma becanda-becanda doang, koq tiba-tiba jadi ada yang aneh. Sekali lagi, gua memutuskan, done. Gak boleh di lanjutkan, sebelum bener-bener dia tau gua tuh "begini".

Dan kemudia, tiba-tiba gua mendapat telepon, orang yang udah sudah 2 tahun gak ketemu mau maen ke rumah. Sengaja gua menjauh dari hal-hal yang "bisa" membuat timbulnya masalah "hati" pada diri gua.

Setau gua dia itu orang yang str8, cuma karena dia menganggap gua "mas"-nya, dia itu bener-bener manja kalo udah deket-2 gua. Dan gak bisa dipungkiri, kalo suasana sudah terasa deket banget, sebagai orang gak "bener", akan terlintas pikiran-pikiran gak "bener". Untungnya gua bisa menahan dan gak pernah sedikitpun gua menuruti "bisikan-bisikan gak bener itu". Sampe gua putuskan untuk sedikit-sedikit mulai menjauh dari dia, dia gak tau kalo gua itu orang gak "bener".

Siapa yang gak tergoda, dengan potongan "model", putih sampe ke "pelosok-pelosok" (soalnya dia sering gak pake baju kalo lagi di rumah, terpaksa deh gua ngeliat... ugh ugh.. tega nian dia menyiksa gua). Beruntung akhirnya gua bisa jadi lost contact.. eh tiba-tiba ada tlp dan itu dari dia memberi kabar mau dateng. Entah gimana caranya dia dapet no tlp gua......... .......

Apalagi kalo lagi "rapuh" kayak gini, orang-orang kayak gitu cuma menambah kesedihan. Kalo kayak gini, kadang serasa hidup dalam "kutukan"... Oke deh, welcome "back" my dude.. Gua tau elu mau curhat kan.. curhat banyak hal. Tapi elu gak pernah tau, gua juga mau curhat tapi gak pernah bisa terungkap...

xoul_male wrote:

gua setuju sih, kadang seprti dalam kutukan,, gua juga pernah mengalaminya, dimana kita lagi dekat ama teman, tapi lama kelaman muncul perasaan aneh, dan perasaan aneh itu benar2 menyakitkan, perasaan yg ingin sekali kita wujudkan tapi tidak mungkin dan tidak boleh di wujudkan, kita tertekan sekali dan merasa apa yg harus kita lakukan dengan perasaan dalam diri kita sendiri itu..

dan mengapa itu harus terjadi ama kita, kalau cuma sekali sih gapapa, tapi ini sering terjadi, hm, kadang manusia juga ada batas kemampuannya, jadi kadang gua juga tidak mampu utk bertahan , tidak bisa bertahan utk melupakan, dan saat tidak mampu melupakan itulah gua merasa menyesali diri sendiri kenapa harus begini, kenapa tidak bisa terwujud keinginann kita,, kenapa mesti ditahan keinginan kita utk mencintai dan di cintai oleh org yg kita cintai.. hal yg mustahil. beginilah serasa hidup di dalam kutukan, hehehe


shyguy 2002 wrote:

sampai kapan harus membohongi hati nurani sendiri?
sampai kapan segalanya harus terasa jadi cobaan?
hidup cuma sekali bro, try anything at least once :)
loose yourself in... but in a controlled way

Thursday, March 22, 2007

Jakarta Undercover: The Movie

SUPERmanReturn wrote:

wah senang bgt akhir mulai bsk film JAKARTA UNDERCOVER akan mulai tayang di bioskop2.
semalam kebetulan gw diajak nonton premiere JU, gw disini bukan mau crt ketemu dengan siapa atau siapa yang nemenin gw.

disini gw pengen ngungkapin kekaguman gw sama film tersebut.
ada beberapa hal yang gw suka dari film ini
  1. temanya yang bisa merupakan alternatif film indonesia yang saat ini lagi marak film horor.

  2. alur cerita yang menegangkan dari awal kita menonton sampai akhir cerita. editing yang ok membuat kita tetap fokus dan duduk diam untuk menonton film tersebut.

  3. para pemainnya yang OKS bgt. Gw suka ma akting LUNA MAYA.

  4. Selain luna sebenarnya gw juga salut ama FAchri albar, dia memerankan tokoh amanda seorang WARIA yang berprofesi sebagai penari striptis dan bersahabat dengan LUna yang juga menjadi penari striptise. Gw salut bgt krn dia udah berani memerankan seorg tokoh yang tidak semua aktor indonesia mau melakukannya. bahkan katanya sampai2 dia harus WAX di film ini. Salut atas totalitasnya.

  5. Film ini mengisahkan ttg WARIA yang menari striptise, dan salah satu waria meninggal setelah di SOD0m1 oleh LUKMAN SARDI. dan kebetulan adik dari luna di menjadi saksi kunci pembunuhan tsb. tak ayal lagi luna dan adiknya dikejar2 oleh HARYO CS ( LUkman Sardi)...... selengkapnya nonton aja

  6. selain iitu aq salut dan kagum ama penulis screenplaynya ' mas joko anwar'. menurt gw ok bgt.

  7. Tarian Luna OKS BGT, sempat juga gw horny ( GOSH, ternyata gw masih bisa horny ma ce, huehuehu )

  8. angle kamera yang ngak monoton dan sejumlah hal2 yang membuat gw kagum ( bwt temen2 tolong ditambahin ya )

akan tetapi.....
ada bebarapa hal yang menurt gw kurang OK

  1. awal si Fachry (amanda) keluar, menurut gw ' cengkok' bancinya kurang ok. cara dia ngomong terlalu over menurut gw. tapi diluar itu akting dia oks bgt, apalagi ketika di tonjokin oleh HARYO CS. itu OKS BGT.... ( GW prediksi dia masuk Nominasi FFI ---- ya walau FFI udah bukan sesuatu yang membanggakaan lagi untuk saat ini)

  2. setingan waktu yang menurt aq bocor. dalm film ini menceritakan kejadian kurang lebih dari jam 1-6 pagi. nah pas dipertengahan adegan ( scene luna dikejar2 di Gerbong) itu keliatan bgt klo langit sudah merah artinya kurang lebih sudah jam 5an gitu. tapi adegan berikutnya ternyata langit masih gelap seperti jam 3an gtu. selain itu pas (scene luna keluar dari taxi) itu keliatan bgt klo udah jam 4-5an).

  3. klo yang ketiga bukan kritikan tapi lebih ke arah masukan, menurut gw klo dibkin JAkarta Undercover 2 sebaiknya dikasih sub title. krn dalm film ini tidak sepenuhnya kejadian2 di dalam buku dengan judul yang sama itu ada di film ini.

ya.... itu aja sich menurut gw beberapa hal mengenai film JU. tapi yang pasti klo boleh gw nilai film ini secara keseluruhan ya...gw kasih nilai 8 ( penilaian antara 1-10).
dan satu hal lagi gw nulis disini bukan berarti gw org promo film tsb tapi lebih keopada pengen curhat aja dan berbagi informasi ttg film2 indonesia yang oks2.

oh ya... aq senang bgt di awal april ini ada beberapa film OKS yang akan beredar. salah satunya NAGABONAR JADI 2. tapi gw blom nonton krn baru premiere tgl 27 mrt ( gw akan nonton klo dpt undangannya) .

terakhir...
gw cuma mau ngucapin
SUKSES dan TONTON TERUS FILM INDONESIA
...

Friday, March 16, 2007

Perempuan Cenderung Biseksual



New York, Sinar Harapan


Menonton blue film selalu identik dengan hobi kaum Adam. Publik menganggap wajar saja kalau ada lelaki yang mengoleksi puluhan atau bahkan ratusan CD yang mempertontonkan adegan seksual. Tapi sekali ada perempuan yang berhobi menonton blue film atau bahkan mengoleksinya, maka orang akan geleng kepala.

Padahal sama seperti lelaki, kaum Hawa juga punya keinginan menikmati sensasi yang muncul dari adegan dalam film-film tersebut. Dengan blue film ini, tim psikolog dari Northwestern University (NU) bisa mengungkap bahwa perempuan memiliki orientasi seks yang tak kalah hebat dari lawan jenisnya, demikian dilansir ABC News baru-baru ini.

Tidak seperti laki-laki yang gairah seksnya bisa dengan mudah bangkit karena menyaksikan perempuan berhubungan seks, ternyata perenpuan mempunyai lebih banyak hal yang mampu meningkatkan gairah seksnya. Dari penelitian Michael Bailey dan kawan-kawan di NU, gairah seks perempuan bisa timbul bukan hanya sekadar melihat adegan seks biasa. ”Orientasi seks perempuan sangat berbeda dengan lelaki. Mereka bisa menyukai adegan seks lesbian, gay, atau heteroseksual sekaligus,” ujar Bailey. Lebih dari itu, mayoritas para perempuan dalam studi penelitiannya ternyata biseksual.

Ide menginvestigasi masalah seks pada perempuan ini muncul di benak Bailey karena kebanyakan studi seks selalu terfokus pada lelaki. Selama beberapa tahun terakhir Bailey dan rekan-tekan melibatkan 121 relawan yang terdiri atas 69 lelaki dan 52 perempuan. Mereka semua dipertontonkan blue film, sementara para ilmuwan memonitor respons seksual mereka.
Pada awal wawancara, masing-masing relawan mengaku heteroseksual atau homoseksual, tak satu pun yang menyatakan diri sebagai biseksual. Untuk mengukur sejauh mana gairah timbul akibat menonton blue film, pada para lelaki dihubungkan sejenis alat yang bisa mengukur ketegangan penis. Sedangkan pada para perempuan diletakkan tabung plastik yang menyala ke dalam vaginanya. Alat ini akan mengukur ketegangan di sekitar organ tersebut dan merefleksikannya ke dalam sinar.

Sementara para ilmuwan memonitor mereka dari ruang lain. Para relawan menonton adegan selama dua menit. Video ini memperlihatkan adegan seks antara lelaki dengan lelaki, perempuan dengan perempuan, dan lelaki dengan perempuan. Hasilnya, respons antara relawan lelaki berbeda dengan relawan perempuan.

”Kaum perempuan memiliki respons yang baik pada adegan erotis lelaki dan lelaki, perempuan dengan perempuan dan lelaki dengan perempuan. Sedangkan para lelaki lebih berespons pada adegan perempuan dengan perempuan. Sementara para gay hanya tertarik pada adegan lelaki dengan lelaki,” papar Bailey dalam studinya yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Science ini.

Orientasi Biseksual

Hampir semua relawan lelaki lebih memberi respons hanya pada adegan seks lelaki dengan perempuan. Tapi hanya 63 persen relawan perempuan yang memberi respons serupa. Berangkat dari sini maka diketahui bahwa perempuan heteroseksual selalu tertarik pada adegan seks lelaki gay, perempuan lesbian atau yang normal-normal saja. Hal berbeda terjadi pada kaum Adam. Mereka jauh lebih tertarik pada adegan seks lesbian dibanding dengan adegan seks lelaki dan perempuan.

Lalu apakah ini berarti semua perempuan tersebut adalah biseksual? Menurut Bailey, berdasar orientasi seks yang terjadi mereka memang terbukti biseksual. Namun jika ditanyakan pada mereka apakah kehidupan seks mereka memang biseksual, tentu jawabannya adalah tidak. Biseksual di sini hanya berarti timbulnya gairah seks mereka saat menonton suatu adegan. Sedangkan kehidupan seks mereka sehari-hari bisa saja normal. ”Pola gairah seks perempuan tidak selalu relevan dengan orientasi seks mereka,” ujar Bailey.

Lisa Diamond, dosen psikologi dari University of Utah mengatakan studi Bailey merupakan refleksi dari penemuan pada riset terdahulu. Orientasi seksual sesungguhnya merupakan sebuah fenomena yang jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan. Orientasi ini sangat dipengaruhi oleh berbagai variasi emosi dan faktor fisik, terutama pada perempuan.
”Pada kaum perempuan, pengalaman atraksi seks tidak tergantung pada gen pasangannya saja, tapi juga terpengaruh oleh segala sesuatu di sekitarnya,” komentar Diamonds. Dari sini dapat disimpulkan bahwa orientasi seks perempuan jauh lebih kaya dibanding kaum Adam. Maka jika ada perempuan yang hobi menonton blue film atau mengoleksi CD-nya, tidak perlu geleng-geleng kepala. Bahkan kita harus memakluminya.

Why he has to be married




ryantofriend wrote:


Dear All,
Gw minta saran aja dari temen2 smua.......
Gw punya BF dan gw dah jalan hampir 3 tahun. Dan diantara kita memang sudah dekat bgt.....
dan takut kehilangan satu sama yang lainnya!

btw, sebelumnya dia punya history, punya cewe, dan dah jalan 6 tahun ma cewe itu! Dia jalan ma cewe itu hanya sebagai "topeng" atw "kamuflase" biasa buat di depan keluarga dan lingkungan teman2 nya!

Dan setelah dia kenal gw, trus kita jadian dan komitmen! Gw kasih dia choice pilih gw atau tuch cewe!! Dan dia lebih pilih gw& putusin tuch cewe!

Memang kacian tuch cewe.... merasa dibohongin selama 6 tahun!
So waktu berjalan, keluarganya sudah mulai curiga dengan kehadiran, dan kedekatan gw ma BF gw!

Mungkin namanya bunga (bukan bangkai), walau diumpetin dimana aja tetap wangi....... . Dan akhirnya tercium juga hubungan kita oleh keluarganya.
Sekarang ini, dia malah mau dikawini ma tuch cewe yang mantannya yang dulu!!
Dia tetep ga mau, dan ingin banget kabur....... ..
Nah...gw bingung gw sebagai BF nya harus bagaimana??
Gw juga kalo dia mo married, gw iklas...tapi dia gak mau!!!!!
Tolong yang bro......... Thx

DeddyO wrote:

sarankan bf mu untuk membuat "kesepakatan" dgn cewe itu...
bilang mau kawin sama dia tetapi tetap boleh berhubungan sama kamu....

kesepakatan tsb harus termasuk apakah kawinnya itu akan membuahkan anak atau tidak...
kalau jawaban iya bf harus berjanji bahwa bf akan mengurus dia dan anak secara baik...

dgn demikian, bf akan menyenangkan orang tuanya, juga memberikan sesuatu yang berarti pada ceweknya dan tetap tidak lepas darimu...

Dunia memang bisa kejam...tetapi juga bisa memberikan tempat yang nyaman bagi penghuninya yang berusaha untuk mencari jalan yang terbaik

(If not.......things can get worse and everybody gets....nothing)

Predikat "Biseksual"???. Coba Pikirkan Lagi...




Ervanthe wrote:


Ada beberapa dari kita mengaku sebagai BISEXUAL. Tapi...benar gak Bisexual???? . Karena menurut gw dari harfiah katanya saja BI & SEXUAL. BI = udah jelas2 dong artinya "dua".

Nah..jika loe merasa "BI", benar gak 50% loe suka cewek? & 50% nya lagi loe suka ama cowok???. Tolong dipikirkan lagi bagi kita2 semua yg merasa berpredikat BI.

Ini sih pengalaman gw sj, honestly.... gw kurang sreg untuk menjalin sebuah hubungan komitmen dengan orang yg berpredikat BISEXUAL. Intinya sih mereka rada2 ribet ya... Apalg untuk mereka yg sudah beristri [mohon maaf]. Kadang mereka confused dengan diri
mereka sendiri, & gw gak mau masuk dalam lingkaran confusednya tsb.

Ada sebuah cerita......
Dulu...gw pernah berkenalan dengan seseorg yg ajang kenalannya dari friendster [biasalah... .]. Setelah cukup lama kirim2 message via ajang tersebut and then kita tukeran no HP. Krn kita berdua adalah sesama komunitas esia nih..., akhirnya telpon2an lah, ngobrol lama2 dan trus begitu selama hampir 1,5 bulan. Anak tsb ngakunya biseksual, katanya dia pernah mau hampir tunangan and then BATAL. Gw gak tanya knp sampe Batal.

Sebenarnya sih mulai dr dpt nmr telpon dia & sebaliknya, kita sering bgt untuk make appoinment untk ketemuan. Tapi....kadang gw-nya lah yg gak bisa atau kadang itu anak
yg gak bisa.

Akhirnya...setelah 1,5 bln telpon2, kita ketemuan. Sebenarnya gw gak terlalu antusias dengan ketemuan itu, even picnya dia di FS good looking sih. But..i must be carefull karena itu tadi....HE IS A BISEXUAL. Dlm otak gw org biseksual = orng yg bingung [maaf ya].

Pas udh ketemu, itu anak sih emang cakep. Tp gw tetap pasang kuda2....gw tetap yakinkan diri gw "jangan sampe gw kebawa perasaan" krn tampangnya. :)
Kita akhirnya ngobrol2. Ngobrolnya sih enak.....ada chemistry, nyambung, lucu & gak garing. Setelah 2,5 jam kita ngobrl2, akhirnya pulang ke rmh masing2. Pd saat pulang itu dia sempat bilang "keep in touch" ya.... Dan jwban gw "ok".

[Panjang ya bow..critanya]
Sampe di rmh, tiba2 esia gw bunyi dan ternyata dia telpon. Kita ngobrol2 lagi... Trus katanya dia sempat bilang suka ama gw. Hehehe..... "Semoga kita bisa jadi sohiban dulu ya" begitu ktnya. Gw sih IYa-in sj krn gw tetap waspada dengan sinyal BISEXSUALnya.

Setelah 1 minggu dr ketemuan tsb, pas weekend tiba. Gw coba call dia cuma sekedar mau ajak nonton, 2 kali gw call and then gak diangkat. Gw sih gak mau sms, miscalled gw pasti muncul dong di HPnya. But....ternyata dia gak telp balik pada hari itu jg. Untung gw waktu itu udh pergi nontn ama tmn gw yg lain, dan gw gak terlalu mikirin knp itu org gak angkat telp gw & gak berharap juga untuk balik dia telp gw.

Sampe skrg itu org gak ada lg telp gw, and then gw juga udh deleted nmr dia dr HP gw. :)

Nah..itu tadi, knp gw bicara bisexual adlh org yg bingung. Mereka benar2 bingung ama diri mereka. Kadang mereka ksh sinyal2 suka sama kita tp itu semua kamuflase. Ini opini gw saja lho....

Thank You,

ERVAn

The Queer wrote:


bingung yah ama bisexual... hihihihi

males banget ama yang bisexual, ga jelas maunya gimana
kalo ama cowo ya cowo aja.. ama cewe ya cewe aja..
tapi sebenernya itu hal yang sama persis ama yang dirasain kaum cewe
bukan posisi yang nyaman buat cowo ataupun cewe yang jadi pacarnya

buat gw sih, kalo misal lo seorang bisexual
lo musti tetep pegang komitmen dan kesetiaan
bukan alasan karena lo seraong bisexual, lo boleh punya pacar cewe dan cowo SEKALIGUS
kalo lo lagi deket ama cewe, atau malah jadian... ga boleh selingkuh dengan cowo laen
komitmen dan kesetiaan, soal cinta apalagi, cuman butuh dua orang, ga boleh ada yang laen

kalo orang yang masih dalam keadan BINGUNG menentukan orientasi seksualnya
it doesn't mean that he's bisexual, because he hasn't approved it yet
dia belum menentukan pilihan apakah dia gay, straight, or bi
masih mencari jati diri i guess...

terus terang gw ga terlalu masalah ama bisexual
asal ya itu tadi... dia ngga seenaknya dalam urusan pacaran, mentang2 bisexual
terus bisa jalan ama cowo dan cewe bersamaan

tapi SAYANGNYA....
banyak di antara kita yang mengaku dirinya biseksual
tetapi hanya sebagai kedok semata

sometimes it's so obvious that he / she mostly attracted to the same gender
tapi karena alasan takut ketauan lingkungan keluarga / masyarakat
karena alasan gengsi, supaya keliatan lebih jagoan
dia mengungkapkan statusnya sebagai biseksual

padahal duhhhh...
compact powder dibawa kemana-mana
gw sendiri yakin, kalo orang yang ngaku biseksual sebagai kedok semata
dalam hatinya dia tau, hubungan mana yang bikin dia ngerasa lebih nyaman

beberapa hari yang lalu ada temen cewe yang cerita ke gw
ternyata cowonya lagi jalan ma cowo laen
dia bingung musti gimana...
dia ngerasa sayang, sekalgus prihatin ama status seksual cowonya
dia ga pengen ninggalin tu cowo, dia pengen bersama selamanya

sementara si cowo ga bisa mengambil keputusan

gw bilang ke temen cewe gw..:
oh honey, hubungan yang lo bikin ngga sebanding ama pengorbananmu
lo di sini dengan cintamu
sementara cowo lo bersenang-senang dengan cowo laen

sekarang bukan saatnya lo mikirin masalah orientasi seksual yang dialamin cowo lo
tapi lo musti lebih mikirin perasaan elo

kalo toh cowo lo beneran cinta ama elo
dia pasti rela ninggalin kehidupannya bareng cowo-cowo laen
at least selama dia masih jalan ama elo
karena terserah mau ama cowo atau ama cewe, selama dia masih jalan berdua ama elo, artinya dia selingkuh
lo mau diselingkuhin ama cowo lo?
kalo lo ngga keberatan sih, then case settled

kalo cowo lo lebih ngerasa nyaman jalan ama cowo
that means he's gay
lo musti rela nglepasin dia, dan muncul hanya sebagai sahabat atau saudara
mungkin dengan begitu kalian bisa lebih deket
buat dia juga pasti lebih mudah, karena ngga akan ngerasa nyakitin elo

tapi.. tapi...
kalo cowo lo belum bisa ngambil keputusan
berarti either he doesn't really love you.. or he's gay
sama sekali ga ada kemungkinan dia straight
you've got no chance

karena kalo toh dia bisexual
dia pasti bakal tetep milih jalan ma elo dan ninggalin cowo lainnya
kalo dia beneran suka ama elo

kalo dia masih ngerasa bingung,
dan mungkin pengen balik jadi straight

dalam posisi sekarang, dia lebih butuh cewe sebagai temen atau sahabat
untuk selalu bisa ngasih support dia

karena kalo lo muncul sebagai kekasih
itu hanya sebagai beban buat cowo gay yang berusaha jadi straight
karena ketika dia sedang belajar mencintai.. dia takut elo ngerasa ngga cukup dengan cinta yang diberikannya
it's hard for him... and you...

then she said she will think about it...

.....

jadi balik lagi ke hal yang pengen gw utarain sebelumnya
ketika lo memilih predikat lo sebagai apa..
gay, straight or even biseksual

pastiin lo udah bener-bener tau dengan apa yang lo mau
makanya gw sering becandain temen gw yang straight soal orientasi seksualnya

"lo tuh bukan straight, belum tau aja ngerasain ama cowo.. sini gw pletekin!"

huehehehe...
ntar kalo lo ga doyan, baru kebukti lo straight

atau kalo nyokap gw nanya, gw suka cowo atau suka cewe..

"belum tau mam, lagi dicobain aja dua-duanya.. entar kalo udah ketauan gw gay, bi, atau straight. dikabarin deh!"

nyokap gw langsung merajuk, sementara gw ketawa
dalam hati, gw gay sih.. cuman belum saatnya aja ngomong.. ntar ah kalo gw udah nemu pasangan yang bener2 cocok

Thursday, March 8, 2007

Kecerdasan Emosional dalam Pacaran, Perlukah?



taken from Kompas

EI (emotional intelligence) atau kecerdasan emosional, akhir-akhir ini menjadi sorotan masyarakat kita dan sering diperbincangkan. Apa sih kecerdasan emosional itu? Dan mengapa ia menjadi lebih penting dari pada IQ (Intelligence Quotient) atau sering hanya disebut dengan intelegensi (kecerdasan). Lalu apa kaitannya antara kecerdasan emosional dengan masalah pacaran?

Sering kita mendengar bahwa IQ atau kecerdasan menjadi patokan cerdas tidaknya seseorang. IQ juga menjadi syarat untuk memasuki dunia sekolah ataupun pekerjaan, tentu saja dengan jumlah IQ di atas rata-rata. Kata intelegensi berasal dari bahasa latin intelligere yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain, sedangkan pengertian intelegensi memberikan bermacam-macam arti.

Ada yang mendefisinikan intelegensi sebagai daya atau kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir (otak) yang dimilikinya. Di sini dapat kita lihat bahwa kecerdasan erat kaitannya dengan masalah penyesuaian diri terhadap masalah yang dihadapinya. Orang yang memiliki intelegensi tinggi akan lebih cepat dan lebih tepat di dalam menghadapi masalah-masalah baru bila dibandingkan dengan orang yang kecerdasannya kurang. Intelegensi seseorang dapat diungkapkan dengan sebuah alat yang disebut dengan tes intelegensi (tes IQ). Seorang ahli psikologi menggolongkan IQ sebagai berikut: kecerdasan rata-rata dengan angka IQ 90-109; di atas rata-rata dengan angka IQ 110-119; cerdas dengan angka IQ 120-129; dan IQ di atas 130 untuk kategori jenius (cerdas sekali).

Kecerdasan Emosional

Lalu apakah orang dengan IQ yang rendah atau rata-rata tidak akan seberhasil orang dengan IQ yang tinggi? Pemikiran inilah yang kemudian memunculkan pentingnya kecerdasan emosi untuk menandingi kecerdasan. Inilah tantangan bagi mereka yang menganut pandangan sempit tentang kecerdasan, dengan mengatakan bahwa IQ merupakan masalah keturunan atau bawaan (genetik) yang tidak bisa diubah lagi, sekalipun oleh pengalaman hidup seseorang.

Lalu bagaimana dengan adanya kenyataan bahwa orang yang ber-IQ tinggi pun bisa gagal sedangkan orang yang ber-IQ rata-rata menjadi sangat sukses dalam hidupnya. Apakah yang menyebabkan itu semua? Di sinilah kecerdasan emosional memegang peranan penting, di mana ia mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Keterampilan-keterampilan seperti ini dapat diajarkan kepada anak-anak semenjak dini, untuk memberi mereka peluang yang lebih baik dalam memanfaatkan potensi yang ada dalam diri mereka.

Apakah emosi itu? Emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu atau setiap keadaan mental (psikologis) yang hebat atau meluap-luap. Walaupun bentuk emosi itu bermacam-macam yang bahkan terkadang sulit untuk kita definisikan karena terkadang emosi itu bercampur aduk menjadi satu. Berbagai macam emosi tersebut bisa dikategorisasikan menjadi amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel, dan malu.

Walaupun demikian, daftar pengelompokan emosi ini tidak menjawab setiap pertanyaan bagaimana pengelompokan bermacam-macam emosi tersebut dimaknai. Misalnya, bagaimana tentang perasaan yang campur aduk seperti iri hati, variasi antara perasaan marah yang juga mengandung sedih dan takut? Hal
inilah yang masih menjadi tantangan bagi para psikolog untuk terus menemukan jawabannya.

Keterampilan mengelola emosi

Cinta yang merupakan bentuk emosi yang sangat populer terutama bagi kalangan remaja, mengandung unsur-unsur penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih. Pacaran adalah sebuah proses saling mengenal, memahami dan menghargai perbedaan diantara dua individu. Dalam proses ini tentu saja keterampilan mengelola emosi sangatlah diperlukan untuk kesuksesan dalam berpacaran secara sehat! Keterampilan mengelola emosi tersebut meliputi :

  • mampu mengidentifikasikan serta mendefenisikan perasaan yang muncul
  • mampu mengungkapkan perasaan, mampu menilai intensitas (kadar) perasaan
  • mampu mengelola perasaan
  • mampu mengendalikan diri sendiri
  • mampu mengurangi stres
  • mampu mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan.

Selain keterampilan emosional, keterampilan yang berkaitan dengan kecerdasan (kognitif - dalam bahasa psikologinya) juga penting.

Keterampilan seperti melakukan monolog (berbicara kepada diri sendiri) atau melakukan dialog batin untuk menghadapi suatu masalah; dapat membaca atau menafsirkan isyarat-isyarat sosial, misalnya mengenali pengaruh sosial terhadap perilaku kita dan melihat dampak perilaku kita tidak hanya dengan kacamata pribadi akan tetapi dengan pandangan (perspektif) yang lebih luas yaitu masyarakat di mana kita tinggal; menggunakan langkah-langkah yang tepat dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan memperhitungkan risiko-risiko yang mungkin akan terjadi; mampu memahami sudut pandang orang lain; memahami sopan santun, perilaku mana yang dapat diterima dan mana yang tidak dapat diterima oleh orang lain atau masyarakat; bersikap positif dan optimistis; serta mampu mengembangkan harapan-harapan yang realistis tentang diri sendiri dan masa depan kita.

Keterampilan berperilaku

Untuk melengkapi keterampilan emosional dan kognitif, ada satu lagi keterampilan yang harus kita kuasai untuk dapat berhasil dalam kehidupan kita (termasuk dalam berpacaran... ) yaitu keterampilan dalam berperilaku. Perilaku kita mencakup dua hal yaitu perilaku verbal dan perilaku nonverbal. Perilaku verbal adalah perilaku yang diwujudkan dengan kata-kata, misalnya mampu mengajukan permintaan-permintaan dengan jelas (misalnya minta duit, minta cium, minta mobil...he..he..), menanggapi kritik secara efektif, mampu bersikap asertif (tegas dan terbuka) untuk menolak pengaruh-pengaruh negatif (no drugs ... no hubungan seks...), dan mampu mendengarkan orang lain. Sedangkan perilaku nonverbal adalah perilaku yang diwujudkan dengan sikap tubuh, ekspresi wajah (seperti cemberut, tersenyum, dan seterusnya..), pandangan mata (melotot, melirik, ...), dan lain-lain.

Manusia dikarunia Tuhan tiga kemampuan tersebut yaitu kecerdasan, emosi dan perilaku, tinggal bagaimana kita mengelolanya sehingga mampu melengkapi satu sama lain.

Kecerdasan emosi tidak hanya penting dan perlu untuk pacaran saja, akan tetapi juga untuk kesuksesan kita dalam mengarungi hidup ini. Sudah cerdaskah kita secara emosional? Ataukah kita justru berada dalam golongan orang yang tidak atau belum mampu mengendalikan emosi kita ...

Saatnyalah kita mulai melatih kecerdasan emosi untuk menghadapi tantangan hidup yang kian sulit dan .... Selamat Berlatih!!!


Nur Rokhmah Hidayati dan Yahya Mashum PKBI DI Yogyakarta dan PKBI Pusat